Thursday, March 13, 2014

Art-Living Sos 2008 ( A-3 Militan



Dear Allz...

Malam sedang merayap pelan. Saya iseng mengecek dan  membuka-buka catatan lama...triiiingg...tralalala...saya menemukan satu artikel yang sudah lamaaa sekali...namun saya pikir masih cukup relevan dengan situasi dan kondisi saat ini. Terutama saat kita sibuk ‘menjual’...entah menjual diri atau menjual produk yang akan kita pasarkan.

Catatan ini adalah refleksi dan kondisi yang barangkali akan selalu berulang, dan seringkali tanpa kita sadari menjadi bagian dari sikap serta perilaku kita sehari-hari. Tidak apa bila kita memiliki sikap militan. Itu adalah pilihan. Dan tulisan ini adalah refleksi dari selintas renungan saya.

Selamat menikmati...:)

Bintaro, 13 Maret 2014
Salam sayang,

Ietje S. Guntur


<3




Art-Living Sos 2008 (A-3.07.02
Start : 07/03/2008 12:48
Finish : 07/03/2008 15:09


M.I.L.I.T.A.N

Seorang teman baru menelepon saya. Biasalah. Ngobrol nggak penting , gitu. Maklum hari libur. Biasa...suka gosip-gosip untuk menipiskan bibir...hehehe...

Tapi ada tadi hal yang agak mengganggu stabilitas emosi saya. Soalnya, dia mulai memprovokasi saya...hehehe...bisa-bisanya. Katanya, saya harus mulai memperhatikan gaya hidup saya. Dan buntut-buntutnya, dia menawarkan sebuah produk yang diyakininya akan membuat hidup saya bahagia...Hmmm....menarik !

Saya, seperti kebiasaan kalau sudah akrab dengan seseorang, pasti suka ngeyel duluan. Okelah kalau dia yakin dengan produk yang ditawarkan. Pakai saja sendiri. Nanti kalau saya lihat dia berubah....(asalkan nggak berubah seperti Gaban !!!), pastilah saya dengan kesadaran penuh akan mengikuti dia. Seperti salah satu hal yang suka saya tiru dari orang lain juga. Tapi kalau dibujuk-bujuk begini, urat penolakan saya biasanya cepat bereaksi... ha ha ha...

Di akhir pembicaran dia bilang begini ,” Yaaa...aku ngomong begini kan untuk kebaikan kamu juga !”

Alamaaak...!!! Begitu perhatian dia terhadap saya. Tapi kok, ya mesti pakai embel-embel menjual produk yang belum tentu sesuai dengan saya. Entah sesuai hasilnya, atau juga sesuai dengan hal-hal lainnya. Kan tidak semua yang cocok untuk orang lain, bisa cocok juga untuk saya. Belum tentu yang nyaman untuk orang lain, bisa nyaman buat saya. Kalau satu produk bisa untuk semua orang, kenapa orang harus bikin produk lain. Kenapa nggak seluruh dunia membuat satu produk itu saja. Biar semua manusia, khususnya yang seperti saya, bisa menjadi lebih bahagia...hik hik...

Eeeh....kok saya jadi pidato begini, ya ? Hmmm...ayo...tenang dulu. Minum air putih dulu....biar tenang. Biar adem...he he...

Abisnya...kesel siiih !! Kok mendadak dia jadi militan begitu ? Dia yang biasanya enak diajak ngobrol dan gosip yang bener-bener gak penting, misalnya menggosipkan kenapa ada lagu Buah semangka berdaun sirih...( itu lho lagu jadulnya Broery Pesolima) mendadak jadi bicara ilmiah segala macam. Hari libur gitu loooh ! Sekali-sekali istirahat dari kepenatan dunia yang sudah ruwet dan krodit.

Saya meneguk air putih saya lagi. Merenung. Kenapa ya, teman saya jadi berubah ?

*

Saat yang lain. Kenalan baru saya. Begitu dia tahu bahwa saya ini manusia gowal-gaul yang kerjanya jalan ke sana ke mari, langsung indra keenam dan instingnya bekerja.

“Kalau begitu kamu punya banyak temen dong !” celetuknya. Hmm...Ya, iyalah...Temen dari TK sampai kuliah aja kalau dijejerin di halaman, pasti udah penuh. Apalagi dari dulu saya suka ngelayap ke mana-mana, pastilah ketemu teman baru satu dua orang lagi.

“Lha...emang kenapa kalau saya punya teman banyak ?” tanya saya penasaran.

“Mestinya kamu manfaatin tuh teman-teman kamu,” lanjutnya dengan antusias. Lalu dengan gegap gempita dia mengeluarkan secarik kertas. Menanyai saya tentang aktivitas saya dan lingkup pergaulan saya.

Halaaah...nih orang, seru juga, pikir saya takjub. Saya sendiri tidak pernah menyadari betapa teman saya banyak sekali. Memang sih selama ini saya selalu main ke sana ke mari dengan berbagai kalangan teman. Tapi untuk memanfaatkan mereka ? Aduuuh...nggak kepikiran sama sekali. Mau memanfaatkan seperti apa ? Kalau sekedar ngobrol dan sharing pengalaman, atau kerja bareng untuk suatu tujuan kemanusiaan, ya oke-oke saja. Tapi kalau dimanfaatkan untuk urusan lain ? Hmmm..belum pernah mencoba tuh.

Lalu saya tanya lagi, “Sebetulnya untuk apa sih tanya-tanya soal teman saya ?” Soalnya saya mulai gerah . Teman-teman saya adalah harta karun saya. Nggak selalu ingin saya pamerkan. Apalagi kalau tujuannya tidak jelas seperti ini.

Dengan manis, tiba-tiba kenalan baru saya ini melakukan manuver. Dengan kata-kata manis penuh pujian atas kesuksesan saya selama ini...( hallloooww...jangan kebanyakan tebar pesona deh !)...dia mulai menawarkan suatu produk kepada saya. He..he...he...jadi ke situ lagi buntutnya, ya ???

Saya Cuma tersenyum-senyum. Tidak bilang iya, tidak bilang tidak. Saya mengagumi kegigihan kenalan saya ini. Mengagumi militansinya terhadap produk yang diyakininya adalah jalan hidup terbaik yang dipilihnya. Dia, dengan penuh semangat dan menggebu-gebu menguraikan semua keunggulan produk yang ditawarkannya. Tanpa cacat cela. Tanpa ada peluang untuk bertanya. Begitu bagus. Begitu sistematis. Seperti kaset yang bisa diputar ulang dengan presisi yang sama.

*

Sekarang saya sedang duduk diam. Membaca selembar brosur mengenai produk-produk yang ditawarkan.

Ada yang dari teman saya. Ada dari kenalan saya. Ada yang saya peroleh dari SPG (Sales promotion girl) di pusat perbelanjaan. Ada yang saya comot dari rak pajangan di sebuah toko. Saya banding-bandingkan.

Semua menarik. Semua unggul. Ibarat kecap, semua nomor satu. Tidak ada satu pun produk yang memberi penjelasan, bagaimana proses produk itu dapat diterima oleh kita, dan cocok seratus persen untuk mendukung kehidupan kita. Dan apa yang harus dilakukan , seandainya terjadi kegagalan terhadap produk itu ? Apalagi kalau produk yang harus dikonsumsi langsung atau dimakan, bagaimana prosesnya terhadap keseluruhan metabolisme kita ?

Kembali lagi. Kalau satu produk sudah cocok untuk semua , kenapa produsen di dunia ini tidak menciptakan satu produk saja secara bersama-sama ? Agar seluruh umat manusia ini sama-sama bahagia. Agar tidak ada peperangan. Agar tidak ada pertikaian. Agar tidak perlu ada debat kusir berkepanjangan ?

Hmm...barangkali...ini sih pikiran selintas saja, ini justru strategi bisnis para produsen. Membuat produk yang one for all. Seperti iklan jaman dulu...menyembuhkan seribu satu macam penyakit. Kita di-brainwash...untuk hanya setia pada satu produk saja. Kita dicekoki untuk meyakini bahwa apa yang kita jual adalah pilihan terbaik dalam hidup kita.

Kembali pada soal militansi...soal kesetiaan terhadap keyakinan. Menurut saya, kita sih boleh-boleh saja setia pada satu pilihan. Kita boleh-boleh saja militan terhadap suatu keyakinan. Tapi memberi pilihan pada orang lain juga merupakan sikap yang menarik dan membuka ruang untuk mengembangkan diri.

Kalau dunia ini hanya cukup diisi oleh satu pilihan, untuk apa harus ada beragam kemungkinan  ? Kalau dunia ini hanya ada satu warna, untuk apa ada pelangi di langit sana ?

Jakarta, 7 Maret 2008

Salam hangat,


Ietje S. Guntur




No comments:

Post a Comment