Dear Allz...
Malam sedang merayap pelan. Saya iseng mengecek dan membuka-buka catatan
lama...triiiingg...tralalala...saya menemukan satu artikel yang sudah lamaaa
sekali...namun saya pikir masih cukup relevan dengan situasi dan kondisi saat
ini. Terutama saat kita sibuk ‘menjual’...entah menjual diri atau menjual
produk yang akan kita pasarkan.
Catatan ini adalah refleksi dan kondisi yang barangkali
akan selalu berulang, dan seringkali tanpa kita sadari menjadi bagian dari
sikap serta perilaku kita sehari-hari. Tidak apa bila kita memiliki sikap
militan. Itu adalah pilihan. Dan tulisan ini adalah refleksi dari selintas
renungan saya.
Selamat menikmati...:)
Bintaro, 13 Maret 2014
Salam sayang,
Ietje S. Guntur
<3
Art-Living
Sos 2008 (A-3.07.02
Start : 07/03/2008 12:48
Finish : 07/03/2008 15:09
M.I.L.I.T.A.N
Seorang teman baru menelepon saya. Biasalah. Ngobrol
nggak penting , gitu. Maklum hari libur. Biasa...suka gosip-gosip untuk
menipiskan bibir...hehehe...
Tapi ada tadi hal yang agak mengganggu stabilitas emosi
saya. Soalnya, dia mulai memprovokasi saya...hehehe...bisa-bisanya. Katanya,
saya harus mulai memperhatikan gaya hidup saya. Dan buntut-buntutnya, dia
menawarkan sebuah produk yang diyakininya akan membuat hidup saya bahagia...Hmmm....menarik
!
Saya, seperti kebiasaan kalau sudah akrab dengan
seseorang, pasti suka ngeyel duluan. Okelah kalau dia yakin dengan produk yang
ditawarkan. Pakai saja sendiri. Nanti kalau saya lihat dia berubah....(asalkan
nggak berubah seperti Gaban !!!), pastilah saya dengan kesadaran penuh akan
mengikuti dia. Seperti salah satu hal yang suka saya tiru dari orang lain juga.
Tapi kalau dibujuk-bujuk begini, urat penolakan saya biasanya cepat bereaksi...
ha ha ha...
Di akhir pembicaran dia bilang begini ,” Yaaa...aku
ngomong begini kan untuk kebaikan kamu juga !”
Alamaaak...!!! Begitu perhatian dia terhadap saya. Tapi
kok, ya mesti pakai embel-embel menjual produk yang belum tentu sesuai dengan
saya. Entah sesuai hasilnya, atau juga sesuai dengan hal-hal lainnya. Kan tidak
semua yang cocok untuk orang lain, bisa cocok juga untuk saya. Belum tentu yang
nyaman untuk orang lain, bisa nyaman buat saya. Kalau satu produk bisa untuk
semua orang, kenapa orang harus bikin produk lain. Kenapa nggak seluruh dunia
membuat satu produk itu saja. Biar semua manusia, khususnya yang seperti saya,
bisa menjadi lebih bahagia...hik hik...
Eeeh....kok saya jadi pidato begini, ya ?
Hmmm...ayo...tenang dulu. Minum air putih dulu....biar tenang. Biar adem...he
he...
Abisnya...kesel siiih !! Kok mendadak dia jadi militan
begitu ? Dia yang biasanya enak diajak ngobrol dan gosip yang bener-bener gak
penting, misalnya menggosipkan kenapa ada lagu Buah semangka berdaun sirih...(
itu lho lagu jadulnya Broery Pesolima) mendadak jadi bicara ilmiah segala
macam. Hari libur gitu loooh ! Sekali-sekali istirahat dari kepenatan dunia
yang sudah ruwet dan krodit.
Saya meneguk air putih saya lagi. Merenung. Kenapa ya,
teman saya jadi berubah ?
*
Saat yang lain. Kenalan baru saya. Begitu dia tahu bahwa
saya ini manusia gowal-gaul yang kerjanya jalan ke sana ke mari, langsung indra
keenam dan instingnya bekerja.
“Kalau begitu kamu punya banyak temen dong !” celetuknya.
Hmm...Ya, iyalah...Temen dari TK sampai kuliah aja kalau dijejerin di halaman,
pasti udah penuh. Apalagi dari dulu saya suka ngelayap ke mana-mana, pastilah
ketemu teman baru satu dua orang lagi.
“Lha...emang kenapa kalau saya punya teman banyak ?”
tanya saya penasaran.
“Mestinya kamu manfaatin tuh teman-teman kamu,” lanjutnya
dengan antusias. Lalu dengan gegap gempita dia mengeluarkan secarik kertas.
Menanyai saya tentang aktivitas saya dan lingkup pergaulan saya.
Halaaah...nih orang, seru juga, pikir saya takjub. Saya
sendiri tidak pernah menyadari betapa teman saya banyak sekali. Memang sih
selama ini saya selalu main ke sana ke mari dengan berbagai kalangan teman.
Tapi untuk memanfaatkan mereka ? Aduuuh...nggak kepikiran sama sekali. Mau
memanfaatkan seperti apa ? Kalau sekedar ngobrol dan sharing pengalaman, atau kerja
bareng untuk suatu tujuan kemanusiaan, ya oke-oke saja. Tapi kalau dimanfaatkan
untuk urusan lain ? Hmmm..belum pernah mencoba tuh.
Lalu saya tanya lagi, “Sebetulnya untuk apa sih
tanya-tanya soal teman saya ?” Soalnya saya mulai gerah . Teman-teman saya
adalah harta karun saya. Nggak selalu ingin saya pamerkan. Apalagi kalau
tujuannya tidak jelas seperti ini.
Dengan manis, tiba-tiba kenalan baru saya ini melakukan
manuver. Dengan kata-kata manis penuh pujian atas kesuksesan saya selama
ini...( hallloooww...jangan kebanyakan tebar pesona deh !)...dia mulai
menawarkan suatu produk kepada saya. He..he...he...jadi ke situ lagi buntutnya,
ya ???
Saya Cuma tersenyum-senyum. Tidak bilang iya, tidak
bilang tidak. Saya mengagumi kegigihan kenalan saya ini. Mengagumi militansinya
terhadap produk yang diyakininya adalah jalan hidup terbaik yang dipilihnya.
Dia, dengan penuh semangat dan menggebu-gebu menguraikan semua keunggulan
produk yang ditawarkannya. Tanpa cacat cela. Tanpa ada peluang untuk bertanya.
Begitu bagus. Begitu sistematis. Seperti kaset yang bisa diputar ulang dengan
presisi yang sama.
*
Sekarang saya sedang duduk diam. Membaca selembar brosur
mengenai produk-produk yang ditawarkan.
Ada yang dari teman saya. Ada dari kenalan saya. Ada yang
saya peroleh dari SPG (Sales promotion girl) di pusat perbelanjaan. Ada yang
saya comot dari rak pajangan di sebuah toko. Saya banding-bandingkan.
Semua menarik. Semua unggul. Ibarat kecap, semua nomor
satu. Tidak ada satu pun produk yang memberi penjelasan, bagaimana proses
produk itu dapat diterima oleh kita, dan cocok seratus persen untuk mendukung
kehidupan kita. Dan apa yang harus dilakukan , seandainya terjadi kegagalan
terhadap produk itu ? Apalagi kalau produk yang harus dikonsumsi langsung atau
dimakan, bagaimana prosesnya terhadap keseluruhan metabolisme kita ?
Kembali lagi. Kalau satu produk sudah cocok untuk semua ,
kenapa produsen di dunia ini tidak menciptakan satu produk saja secara
bersama-sama ? Agar seluruh umat manusia ini sama-sama bahagia. Agar tidak ada
peperangan. Agar tidak ada pertikaian. Agar tidak perlu ada debat kusir
berkepanjangan ?
Hmm...barangkali...ini sih pikiran selintas saja, ini
justru strategi bisnis para produsen. Membuat produk yang one for all. Seperti
iklan jaman dulu...menyembuhkan seribu satu macam penyakit. Kita
di-brainwash...untuk hanya setia pada satu produk saja. Kita dicekoki untuk
meyakini bahwa apa yang kita jual adalah pilihan terbaik dalam hidup kita.
Kembali pada soal militansi...soal kesetiaan terhadap
keyakinan. Menurut saya, kita sih boleh-boleh saja setia pada satu pilihan.
Kita boleh-boleh saja militan terhadap suatu keyakinan. Tapi memberi pilihan
pada orang lain juga merupakan sikap yang menarik dan membuka ruang untuk
mengembangkan diri.
Kalau dunia ini hanya cukup diisi oleh satu pilihan,
untuk apa harus ada beragam kemungkinan
? Kalau dunia ini hanya ada satu warna, untuk apa ada pelangi di langit
sana ?
Jakarta, 7 Maret 2008
Salam hangat,
Ietje S.
Guntur
No comments:
Post a Comment